top of page
Sarwono & Ade Supandi.png

CATATAN DAN KESAN-KESAN BERSAMA IR. H. SARWONO KUSUMAATMADJA

oleh: Ade Supandi

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Semoga Allah SWT memberikan karunia dan rahmat lapang alam kuburnya kepada Ki Lanceuk Ir. H. Sarwono Kusumaatmadja, yang wafat pada tanggal 26 Mei 2023. Segala amalan baiknya menjadi timbangan yang berbuah pahala, dan hanya Allah lah yang akan membalas dengan derajat yang tinggi dan mulia.

Pengabdian Kang Sarwono yang tulus, jujur, dedikasi purna dan mengedepankan integritas moral, merupakan cerminan beliau seorang berkepribadian kuat dan konsisten, sehingga menjadi figur teladan bagi masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

Catatan dan kesan perjumpaan saya dengan Kang Sarwono Kusumaatmadja, tentu saja tidak banyak dibandingkan dengan keluarga, sahabat, rekan, kolega beliau yang ulubiung keseharian, perjalanan dinas saya sejak 1979 sd 2012 lebih banyak melaut, dan bermarkas di Surabaya.

Pertama kali bersua, bertatap muka dengan Kang Sarwono Kusumatmadja, saat menghadiri acara peluncuran buku "Jejak Kebangsaan Prof. Mochtar Kusumaatmadja" di Darmawangsa pada sekitar Maret 2015, beberapa bulan saya menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Laut.

Perjumpaan kemudian terjadi dengan beliau, pada 15 Desember 2018, menghadiri undangan acara Pemasangan Prasasti Deklarasi Djuanda di Taman Hutan Raya Djuanda, Bandung. Sebelum acara pemasangan prasasti, dilaksanakan bincang dan diskusi, mengupas perjalanan dan perjuangan Ir. Djuanda, di meeting room Tahura, yang dipandu diskusi oleh Kang Ipong, hadir dalam diskusi bersama beliau, adalah keluarga besar dan kerabat Ir H. Djuanda serta teman-teman peduli lingkungan dan Garis Depan Nusantara.

Topik perbincangan tentang kiprah dan perjuangan Ir. H. Djuanda sampai dengan dilaksanakannya Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957. Deklarasi yang kemudian menjadi momentum perjuangan Politik dan Hukum serta konsepsi Wawasan Nusantara, merupakan tonggak sejarah ketatanegaraan Indonesia, perjuangan yang terus berlanjut dilakukan oleh Prof. Mochtar Kusumaatmadja, kakak kandung Kang Sarwono Kusumaatmadja, beserta panitia kordinasi wilayah nasional (Pankorwilnas) menghasilkan buah manis perjuangan dengan diterimanya prinsip hukum laut dan rezim negara kepulauan pada Konvensi PBB tentang Hukum Laut pada tahun 1982.

 

Sebelum Kang Sarwono menyampaikan pemikirannya dalam diskusi, beliau meminta saya untuk menjelaskan pandangan dan tindakan AL, dalam menjaga kedaulatan negara dan hukum di laut, pembinaan wilayah dan pengawasan potensi laut serta pembangunan kekuatan, beliau berkomentar terkait tren isu penenggelaman kapal ikan ilegal. Bagi TNI AL, dengan adanya hukum laut yang sudah menjadi hukum positif dengan meratifikasi hasil sidang PBB tentang konvensi Hukum Laut yakni dengan UURI Nomor 17 Tahun 1985, menjadi dasar kuat bagi TNI AL dalam melaksanakan tupoksinya di wilayah NKRI, sedangkan dinamika mengenai penanganan IUU Fishing merupakan kebijakan dan direktif pemerintah, melalui Kementrian KP.

Maraknya kegiatan ilegal di sektor kelautan dan perikanan, tidak terlepas dari kemampuan negara dalam menyediakan sarana dan prasarana untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya laut di permukaan dan bawah permukaan laut, termasuk dasar laut di bawahnya, keterbatasan kapasitas dan kemampuan dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya serta potensi laut, akan mengundang kehadiran aktivitas ilegal ataupun juga ekses keterbatasan pengawasan dan penyimpangan dari masuknya unsur eksplorasi dan eksploitasi pihak lain yang telah berizin, atau bekerja sama dengan pihak RI, serta berdampak pada kerusakan lingkungan dan ekosistem laut.

 

Pemikiran Kang Sarwono yang dapat saya kutip dari pembicaraan waktu itu, adalah perjuangan Ir. Djuanda dan tentunya diteruskan oleh Prof. Mochtar Kusumaatmadja, dan Kang Sarwono sendiri yang menjadi Menteri pertama pada Departemen/Kementerian Kelautan dan Perikanan, adalah terus berlanjut mengupayakan kapasitas dan kemampuan mengelola dan memanfaatkan laut untuk kesejahteraan, mengembangan infrastruktur kelautan, perikanan dan penunjang kemaritiman, pemberdayaan sumber daya manusia, dan pencadangan kelestarian lingkungan laut, potensi kelautan dan perikanan. Abai terhadap kelestarian lingkungan hidup dan pelestarian sumber daya, akan menimbulkan bencana kemudian hari. Terima kasih Kang Sarwono, telah mengundang saya pada acara pemasangan prasasti Deklarasi Djuanda, dan saya mendapatkan tambahan ilmu kelautan dan ilmu lingkungan hidup.

 

Selamat jalan Kang Sarwono ke haribaan Illahi Rabb,

Wassalamualaikum.

Dr. Ade Supandi. S.E., M.AP
Laksamana TNI Purn.
Kepala Staf Angkatan Laut Republik Indonesia Periode 2014-2018

bottom of page