top of page
Erry & SK.png

CATATAN RINGAN BERMAKNA DALAM

oleh: Erry Riyana Hardjapamekas

Saya mengetahui sosok Sarwono Kusumaatmadja sejak masih mahasiswa awal 1970-an, namun baru mengenalnya awal tahun 1990 ketika ia menjabat Menteri Negara Lingkungan Hidup (LH). Kami sering bertemu bersama para senior aktivis 66 Bandung dan Jakarta. Sembilan tahun kemudian Sarwono dan saya dilantik menjadi Anggota Luar Biasa Perhimpunan Pendaki Gunung dan Penempuh Rimba Wanadri. Setelah itu kami sering bekerja sama dalam berbagai kegiatan sosial.

Sarwono adalah seorang yang memiliki empati. Suatu hari sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup, Sarwono berkunjung ke Pangkalpinang, Bangka. Kami menyambutnya di Bandara Depati Amir. Ketika itu dia melihat Polantas bermotor yang siap mengawal rombongan. Tiba-tiba dia membuka pintu mobil lalu berjalan menghampiri polisi itu dan berbincang dengan ramah. Mengakhiri pembicaraan singkat itu, Sarwono meminta polisi itu pergi dan memberi salam tempel kepadanya, yang saya duga sejumlah uang. Polisi itu pun mengangguk dan berlalu. “Banyak tugas lain yang lebih penting dan kasihan gajinya kurang,” ujarnya kepada para pendamping. Jadilah sang Menteri bepergian tanpa dikawal polisi. Sekarang ini banyak penyelenggara negara maupun orang-orang swasta yang pergi ke mana-mana meminta keistimewaan pengawalan, dengan berbagai ragam pembenaran.

Sarwono adalah orang yang ingat pada kebaikan orang lain. Sebagai penggemar tenis, dia menjadi Ketua Pengurus Pusat Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti). Untuk mengirimkan atlet-atlet ke berbagai turnamen di luar negeri dia menggalang dana. Pada waktu itu PT Timah memberikan sumbangan kepada PB Pelti. Saya waktu itu sebagai Dirut PT Timah. Lama setelah peristiwa itu ia mengatakan kepada saya: “Saya ingat Timah menyumbang dana, dan itu berguna banget.” Itulah Sarwono, orang yang selalu mengingat kebaikan orang, padahal saya sendiri sudah lupa dan yang menyumbang pun institusi, bukan saya.
 
Sarwono piawai dalam membuat kiasan cerdas yang boleh jadi mewakili dugaan beberapa kalangan. Pada bulan Juni 2021 Koresponden The Economist menghubungi saya dan meminta komentar tentang demokrasi di Indonesia dan amandemen Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK). The Economist adalah majalah terbitan Inggris, dan sampai sekarang paling berpengaruh di dunia bersama Majalah Time. Dengan halus saya menolak permintaan wawancara itu. Rasanya kurang elok jika saya mengomentari lembaga yang saya pernah ada di dalamnya. Selain itu, saya “tidak begitu paham” soal demokrasi. Alih-alih saya merekomendasikan beberapa nama, antara lain Sarwono. Usulan itu disambut baik The Economist. Saya kutip cuplikan artikel dan komentar Sarwono dalam majalah itu terbitan 21 Agustus 2021:


This was the system that Jokowi’s supporters thought he would dismantle. But the President has proved to be a pragmatist rather than an idealist, riding roughshod over democratic institutions and principles in order to secure the political support necessary to execute his economic agenda. “If you are swimming with the sharks and dancing with the wolves, you have to make friends with some of them,” says Sarwono Kusumaatmadja, a former minister. Enfeebling the KPK is one way to do that. (Ini adalah sebuah sistem yang menurut pendukung Jokowi akan dibongkar. Tapi terbukti bahwa presiden adalah seorang pragmatis ketimbang idealis, yang mencoba menunggangi secara kasar lembaga dan prinsip demokrasi dalam rangka mengamankan dukungan politik yang dia butuhkan untuk mengeksekusi agenda ekonominya. “Jika anda berenang bersama ikan hiu dan menari bersama serigala, Anda harus berkawan dengan beberapa dari mereka,” ujar Sarwono Kusumaatmadja, seorang mantan menteri. Melemahkan KPK adalah salah satu cara untuk melakukan itu.)

Saya juga menilai Sarwono seorang yang religius kendati tidak dikenal sebagai mewakili kalangan agama. Dalam berbagai kesempatan, jiwa sosialnya muncul. Suatu saat kami bertemu dan mendiskusikan semakin banyaknya permintaan sumbangan melalui pesan virtual Whatsapp. Kemudian kami sepakat untuk menyeleksi mana yang paling kita kenal dan mendesak saja, yang penting niatnya baik. “Fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan),” celetuknya dengan cukup fasih. Bila kesalehan juga diukur dari kepekaan sosial, maka Sarwono adalah seorang yang religius, seorang yang memiliki kesalehan sosial.

Dari sekian lama mengenal dan berinteraksi dengannya, saya menilai Sarwono Kusumaatmadja adalah seorang yang cerdas, berintegritas, humanis dan humoris.

Erry Riyana Hardjapamekas
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 2003–2007

bottom of page