top of page
Qodari dan Sarwono.jpg

LIVE LIFE TO THE FULLEST! 
SARWONO KUSUMAATMADJA, SOSOK YANG TAK PERNAH KEHILANGAN SENTUHAN ENERGIKNYA

oleh: M. Qodari

Jumat, 26 Mei 2023. Jam 17.15, waktu Malaysia. Ir. H. Sarwono Kusumaatmadja menjadi momen perpisahannya dengan kehidupan, dalam usianya yang ke-79 tahun. Kepergian beliau merupakan sebuah kehilangan, bukan hanya bagi keluarga dan teman-teman dekatnya, tapi bagi Indonesia.

 

Selama hidupnya, saya mengenal Pak Sarwono sebagai sosok yang begitu energik, begitu menginspirasi. Saya punya sebutan khusus untuk menggambarkan sosok Pak Sarwo, yakni “...a man with the spirit of living life to the fullest”. Lelaki dengan semangat menjalani hidup dengan begitu energik, menggebu dan menikmati setiap inci kehidupan dengan sebaik-baiknya untuk kebaikan kemanusiaan dan lingkungan.

 

Pak Sarwono adalah seorang pejabat publik, yakni pernah menduduki jabatan sebagai menteri di zaman Presiden Soeharto, dan di masa Gus Dur. Paling tidak itulah mula-mula saya mengenalinya. Dalam posisinya sebagai pejabat publik saat itu, ia sudah menjadi sosok yang menginspirasi anak-anak muda dan aktivis lainnya masa itu. Pertama, ia sosok muda saat menduduki jabatan publik sebagai menteri. Kedua, lebih dari sekedar pejabat biasa, Pak Sarwono muda mendapat amanah dan kepercayaan yang begitu besar dan strategis dari Presiden Soeharto. Ia dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) di Partai Golkar, salah satu partai besar besutan Presiden Soeharto waktu itu.

 

Beruntung bagi saya, ada satu momen yang akhirnya membuat saya bisa mengenal Pak Sarwono lebih dekat. Itu terjadi sekitar 2003-2004, di mana saat itu saya diajak Ipong Witono (Mas Ipong) beserta kawan-kawan lainnya terlibat aktif di dalam sebuah forum diskusi, aktivis dan silaturrahmi bernama Forum Sahabat. Melalui forum itu, saya juga dipertemukan dengan Pak SBY yang juga anggota forum itu. Keanggotaannya berasal dari latar belakang yang begitu beragam baik dari segi usia, latar belakang daerah, dan lain-lainnya. Ada dari Bandung dan Jakarta. Mas Ipong sendiri merupakan tokoh di Jawa Barat, memiliki sahabat dan pergaulan yang sangat luas di Jawa Barat. Itulah yang memantiknya banyak anggota di forum ini berasal dari Jawa Barat. Forum ini cukup solid. Terbukti hingga saat ini, pertemanan kita sesama anggota Forsa ini tetap terjaga. Menurut saya, Mas Ipong sebagai salah satu punggawa forum ini menjadi salah satu sosok yang mampu menjadi pengikat forum ini.

 

Pak Sarwono sendiri merupakan salah satu anggota forum yang berasal dari ITB. Selain beliau, banyak teman-teman alumni ITB lainnya yang juga ikut bergabung di forum ini. Sejak aktif di forum ini, maka saya semakin mengenal lebih jauh dan dari dekat tentang sosok Pak Sarwono. Pertama, tawanya yang begitu lepas dan semangatnya yang menggebu-gebu. Tawa yang begitu lepas membuat kita – saya dan teman-teman yang lain – tak canggung mengenali beliau. Pak Sarwo menjadi sosok yang disenangi, senang bergaul, dan terbukti ia tak pernah menjadi sosok yang kesepian. Di mana ada Pak Sarwono, di situlah selalu terjalin pertemanan. Hingga akhir hayatnya, Pak Sarwono selalu dikelilingi banyak orang: keluarga, dan teman-temannya yang luas. Ini yang saya sukai dan kagumi dari Pak Sarwo.

 

Kedua, Pak Sarwono juga sosok yang sangat energik, memiliki semangat yang menggebu-gebu. Seperti saya sebutkan di atas, ia benar-benar menikmati hidup dalam seluruh tahapannya, dalam banyak perannya (mahasiswa, aktivis, hingga pejabat), dan dalam segala situasinya (susah-senang). Semuanya ia jalani dengan begitu menggebu, bersemangat. Live life to the fullest, demikian saya menyebutnya. Nampaknya baginya hidup adalah sesuatu yang harus dinikmati, diperjuangkan sebaik-baiknya, apapun kondisinya. Seakan tiap detik, tiap jengkal waktu dalam hidup ini, adalah sesuatu yang mesti ia jalani dengan penuh energik, semangat. Misalnya, saat bersama teman-temannya saat menjadi mahasiswa di Bandung, dia mengalami momen-momen apa yang saya sebut sebagai ‘buku, pesta, dan cinta’. Semua itu ia jalani dan nikmati.

 

Di waktu lain, dalam statusnya sebagai aktivis politik, misalnya, beliau begitu berani dan menonjol. Daya letup dan gagah dalam kiprahnya sebagai aktivis politik membuatnya begitu mencolok, membuat banyak mata mudah mengenalnya dan bahkan berhasil menjadi sosok muda yang dilirik Presiden Soeharto dan ditempatkan sebagai Sekjen Golkar. Namun meskipun ia menjadi bagian dari Orba, penguasa saat itu, jiwa aktivisnya selalu tergugah. Daya dobrak dan keberaniannya tak bisa dibungkam. Soal keberanian Sarwono, ada suatu kisah menarik: Minggu, 17 Mei 1998, Sarwono diwawancarai di SCTV dalam Liputan 6 siang. Saat itu, Sarwono berbicara tentang ide reshuffle: "….kita pakai analogi gigi reshuffle itu tambal gigi. sedangkan kita ini perlu cabut gigi, supaya gigi baru bisa tumbuh. Jadi, reformasi itu hanya bisa dilakukan dengan kalo kita mengambil tindakan moral, mencabut gigi itu…". Wawancara itu menjadi penanda awal keberanian kalangan elite politik berbicara terbuka bahwa pemerintahan Soeharto sudah tak dapat dipertahankan lagi.

 

Lagi-lagi soal pertemanan, Pak Sarwono begitu luwes berteman dengan siapa pun. Sekat-sekat ideologis-politisnya sebagai aktivitas tak membuatnya terbatasi. Meskipun ia pernah menjadi bagian dari Orde Baru, tapi kenyataannya ia diterima di lingkaran mana pun. Meski ia pernah menjadi menteri dan bagian dari Golkar, kenyataannya ia diterima di lingkaran aktivis di luar kekuasaan. Pertemanan yang tanpa batas, dan jiwa aktivis dan kepeduliannya dengan isu-isu lingkungan, kemanusiaan, sosial-politik, dan kebudayaan membuatnya oleh banyak kalangan.

 

***

Saya sendiri sangat mengagumi beliau. Banyak hal yang menginspirasi saya. Sehingga saya demikian kaget begitu mendengar bahwa Pak Sarwono meninggal. Terlebih saya belum pernah mendengar sakitnya. Kabarnya keluhannya begitu cepat, dadakan. Demi dapat menemani di detik-detik akhirnya, saya bergegas ke rumah almarhum Muhtar Kusumaatmadja, kakak beliau. Saat jenazah Pak Sarwono masih belum sampai di sana, saya sempatkan bertemu dengan anaknya, dan banyak orang teman almarhum di sana. Ada tokoh-tokoh seperti Sandiaga Uno, GM, dan teman-teman beliau dari ITB, ada pasangan Rahmat Witular dan istrinya, Erna Witular.

 

Pak Sarwono benar-benar dikelilingi banyak teman yang begitu mencintainya. Sehingga di akhir hayatnya, teman-teman berdatangan untuk mengantarkan kepergiannya yang abadi, yang hanya akan meninggalkan banyak cerita, pelajaran dan keteladanan dari sosok almarhum. Pergaulan yang luas, persahabatan yang tanpa batas, dan pada hidup yang tak pernah kehilangan daya semangatnya, daya dobrak dan juangnya.  Saya ingat kata-kata Sjutan Sjahrir: “Hidup yang tak dipertaruhkan, tidak akan dimenangkan”. Semangat hidup Pak Sarwono telah memenangkannya banyak hal dalam hidupnya: jalinan pertemanan, dan perjuangan sosial lewat aktivisme dan politik.

 

Kita semua akan banyak belajar dari beliau. Selamat jalan, Pak Sarwono.

Dr. M. Qodari, S.Psi., M.A.

Pengamat Politik

bottom of page