top of page
Mieke.png

CATATAN MENGENANG ALM. SARWONO KUSUMAATMADJA DARI SEORANG SAHABAT KELUARGA

oleh: Mieke Komar Kantaatmadja

Alm. Sarwono saya kenal sebagai adik dari Prof. Mochtar Kusumaatmadja , guru besar Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran di Bandung. Pada waktu itu saya mahasiswa FH Unpad, aktivis kampus Unpad dan anggota Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB).

 

Sebagai senior PMB saya tidak banyak berinteraksi dengan alm. sebab kami berbeda angkatan. Saya mengetahui dan mengenal alm. sebagai aktivis PMB, aktivis kampus ITB/KAMI dan alm. termasuk pimpinan mahasiswa generasi kami.

 

Pada tahun 1963, saya berkenalan dengan Nini Maramis, yang datang dari Jakarta untuk sekolah di ITB. Nini dan saya adalah gadis Kawanua, jadi kami mudah menjadi sahabat. Sebetulnya kami berdua masih keluarga cukup dekat menurut stamboom Keluarga Besar Wer wer Wenas dari Tomohon Sulawesi Utara. Tetapi Nini dan saya tidak perduli dengan kekerabatan, karena belum tentu saudara dekat bisa cocok sebagai teman .

 

Setelah tahun 1966 sebagian dari aktivis Bandung menjadi politikus nasional; seperti Sarwono, Rahman Tolleng, Rahmat Witular, dkk. Sebagian mahasiswa kembali ke kampus untuk menyelesaikan studi masing-masing.

 

Tahun 1967 saya lulus dan menjadi asisten wanita pertama dari Prof. Mochtar Kusumaatmadja dalam hukum internasional, bergabung dengan dosen lain seperti Komar Kantaatmadja yang kemudian menjadi suamiku.

 

Pada tahun-tahun itu saya menyaksikan sobat saya, Nini Maramis mulai dekat dengan Sarwono Kusumaatmadja, mereka berasal dari kampus sama, yaitu ITB. Mereka serius pacaran...Sekalipun diketahui bahwa keduanya menganut agama berbeda, tetapi hal tersebut tidak menjadi penghalang.

 

Teman dekat seperti Wimar Witular dkk, kawan dekat Loes Waani dan saya bisa paham mengapa Nini dan Yuk-Yuk (nama panggilan alm. Sarwono) bisa cocok botol. Keduanya lama sekolah di luar negeri, keduanya ber-IQ tinggi, suka berdiskusi berjam-jam, peka terhadap perkembangan sosial sekalipun Nini senang dansa dan Yuk-Yuk tidak..

 

Mereka menikah di Bandung pada tahun 1969. Saya tidak menghadiri pernikahan mereka, sebab sedang menempuh studi S2 di AS. Sepulangnya dari AS saya menikah dengan kolega saya di Fak Hukum Unpad: Komar Kantaatmadja. Mulailah tahap di mana Nini dan saya melahirkan dan mengurus anak dst. Mereka memperoleh empat anak Rezal, Nino, Adja dan Keke dengan lima cucu. Kami mendapat dua laki-laki dan satu putri dengan 3 cucu...

 

Sarwono menjadi Sekjen Golkar dan Nini berkarier di Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Kebetulan suami saya paruh minggu kerja di Jakarta, pada Lawfirm Mochtar, Karuwin dan Komar (MKK) dan kami berhasil membangun rumah dekat dengan Nini-Sarwono di daerah Kuningan, Jakarta Selatan.

 

Alm. Sarwono menjabat sebagai  menteri tiga kali. Hubungan keluarga kami cukup dekat, walaupun masing-masing memiliki kesibukan sendiri. Nini dan saya bertemu setiap ada kesempatan, makan siang dengan teman- temannya atau dengan teman-teman saya di Jakarta atau di Bandung . Pertemanan yang dekat sangat mengesankan!

 

Kesan saya tentang alm Sarwono sebagai ayah dan suami adalah sangat baik. Sekalipun alm. sangat aktif di luar rumah, ia adalah seorang "family man". Sosok yang sangat menyayangi istri dan anak anak dan kemudian juga cucu-cucunya.

 

Hidup mereka relatif sederhana, teringat alm. Sarwono sering memakai sepatu buatan Cibaduyut, wilayah tukang sepatu terkenal di Bandung dan ia bangga atas hasil produksi wiraswasta disana. Tidak tertarik memakai sepatu merek Bally yang dulu tersohor!  

 

Sebagai politikus Sarwono adalah icon politik dalam era Golkar berperan, seorang politikus intelektual muda dengan otak cemerlang yang berani berpendapat original, jujur, sederhana, dan percaya diri. Selama kariernya alm. tiga kali menjadi menteri dalam bidang-bidang menantang, seperti Lingkungan Hidup dan Kemaritiman Indonesia. Tidak terdengar isu-isu negatif .

 

Secara singkat: Sarwono was an intelectual leader, who made the right decision to step down from politics elegantly and was still very much respected by the people, untill he passed away recently. We will miss his big broad smile, his witty comments. Nini Maramis, my bestie forever, I trust you both soulmates are together now.... Insya Allah...

 

Bandung, 23 Agustus 2023

 

Mieke Komar Kantaatmadja-Palar

bottom of page