top of page

Ngaguar Tapak Lacak Pa Mochtar Kusumaatmadja

Diperbarui: 24 Jul 2023



Panitia Gelar Wicara “Ngaguar Tapak Lacak Pa Mochtar Kusumaatmadja” telah meminta saya untuk menjadi narasumber, untuk membahas bidang kebangsaaan / politik. Tentunya yang menjadi bagian dari kehidupan Kang Mochtar.


Tentang kedua bidang di atas, tentu dengan sendirinya akan menjadi bagian dari bahasan Duta Besar Arief Havas Oegroseno dan Prof. Etty Agoes yang masing-masing membahas hukum kelautan / maritim dan bidang pendidikan dan akademik. Mengapa? Karena materi bahasan Pak Havas Oegroseno dan Bu Etty Agoes memasuki ranah publik dan secara eksplisit maupun implisit tentu erat dengan bidang kebangsaan dan politik.


Prof. Armida memberikan sambutan atas nama keluarga. Soal kebangsaan dan politik tentu menjadi bagian dari uraian Armida, tentu dari perspektif anggota keluarga selaku putrinya. Dengan demikian, saya mendapat bagian yang menarik dan mungkin tidak banyak diketahui orang, yaitu tentang apa yang saya ketahui tentang Kang Mochtar ketika ia berusia muda, saat di mana nilai dan pandangan hidup serta orientasi politik-kemasyarakatan seseorang terbentuk.


Almarhum ayah saya, Mohammad Tashim adalah kelahiran Priangan, dari Mangunredja Tasikmalaya dan profesinya adalah asisten apoteker. Ibu saya Sulmini asal Cirebon, adalah seorang guru Sekolah Dasar yang zaman itu di tahun 1950-an dikenal sebagai Sekolah Rakyat.

Dalam kosa kata zaman sekarang, kedua orang tua saya adalah aktivis. Di zaman itu disebut sebagai orang pergerakan. Berarti bahwa waktu luang di luar pekerjaan diisi dengan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Ketika kedua orang tua saya disatukan kembali sesudah pengakuan kedaulatan oleh Belanda (kami sempat terpisah di zaman perang kemerdekaan antara tahun 1945-1949), kami tinggal di Jalan Kramat Sentiong di Jakarta. Rumah kami, sebagaimana ciri rumah orang pergerakan, selalu dipenuhi oleh para sehabat, sanak saudara yang datang dan pergi tidak kenal waktu, sibuk dengan urusan-urusan pendidikan, kesehatan dan soal kepentingan umum lainnya.


Orientasi kedua orang tua yang menurut zaman itu adalah orang Republikein, untuk dibedakan dengan yang lain, yang disebut sebagai orang Federalis atau NICA. Tema kegiatan kedua orang tua saya adalah apa yang waktu itu disebut oleh Bung Karno sebagai “Nation and Character Building” atau dengan bahasa yang kemudian digunakan sebagai “Mengisi Kemerdekaan”.


Yang ditanamkan kepada siapapun yang hadir di rumah adalah etos kebangsaan. Ayah dan ibu selalu menampilkan tata pergaulan yang bersifat inklusif. Menilai seseorang bukan dari asal usul, religi atau status sosial, namun dari kejujuran, integritas dan komitmennya.

Pernah ada anggota keluarga dan juga kenalan yang punya problem menikah dengan orang tidak seagama, maka mereka mengungsi ke rumah Sentiong dan kehebohan yang diciptakan akan diselesaikan oleh kedua orang tua saya dengan perundingan atau menurut bahasa zaman sekarang dengan pendekatan resolusi konflik dan ternyata manjur karena keluarga kedua belah pihak akhirnya rukun kembali dan membawa kedua pengantin pulang bersama-sama.

Rumah Sentiong juga menjadi tempat diskusi para sanak saudara dan sahabat yang mempunyai paham politik berbeda-beda. Ada yang menginginkan Negara Kesatuan berdasarkan Pancasila, ada yang menginginkan Negara Federal, ada juga yang menginginkan Negara Islam. Alhamdulillah tidak ada yang komunis. Dan mereka adalah simpatisan atau anggota dari partai-partai politik yang menganut berbagai aliran berbeda di atas. Karena ayah saya tidak berpartai, maka dia menjadi penengah, sebagai moderator dan memandu diskusi yang bisa saja menjadi tajam dan emosional dengan kepala dingin dan dengan rasa humor yang mencairkan suasana, dan hadirin tetap kompak dan bersahabat dalam perbedaan mereka.

Sikap kebangsaan diperlihatkan oleh ibu saya dengan cara memastikan bahwa para pemondok di rumah selalu terdiri dari orang-orang yang dari suku dan agama berbeda. Ini adalah untuk membangun suasana ke-Indonesiaan.

Di samping sikap kebangsaan yang menjadi bagian dari suasana rumah tangga, karakter Mochtar, sebagaimana pernah dikemukakan kepada saya, amat dipengaruhi oleh nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan kepada anak-anak dan juga diperlihatkan sebagai teladan. Kedua orang tua kami kompak menjunjung nilai-nilai kejujuran, kepedulian terhadap sesama dan juga kesehatan dalam arti luas. Namun dalam ekspresi dari nilai-nilai di atas, ayah dan ibu menampilkan personalitas yang berbeda.


Ayah cenderung bersikap apa adanya, sampai ke tingkat cetus dan tajam. Ayah adalah orang yang punya rasa humor yang dikemukakannya dengan gaya datar dan tajam, sehingga terkesan sarkastis. Namun tidak ada yang marah atau sakit hati karena semua yang mengenalnya paham dan menghargai nilai hidupnya yang penuh kepedulian.


Ibu mempunyai personalitas yang berbeda. Ia amat pandai bertutur kata dengan lembut, dan selalu bisa mencari jalan keluar dari berbagai situasi yang sulit. Jika ayah mempunyai cara ekspresi diri yang “urakan”, maka ibu lebih menampilkan sosok yang diplomatis dan luwes. Hal ini terlihat juga dari cara berpakaian mereka yang berbeda. Ayah cenderung bergaya “semau gue” sedangkan ibu cenderung bergaya rapih dan selalu berkain kebaya.


Dengan demikian, kedua orang tua kami mempunyai kombinasi sifat yang saling melengkapi, dan kami banyak belajar dari keduanya serta juga bisa beradaptasi untuk bersikap “keras” dan “lembut” sesuai situasi. Namun sikap dasar selalu konsisten dalam hal menjunjung tinggi kejujuran, integritas dan komitmen terhadap kebangsaan.


Akang Mochtar adalah bagian dari suasana ini yang rupanya memang sudah dibentuk bahkan sebelum saya dan adik saya lahir. Ibu saya berjuang gigih agar sang anak kecil Mochtar diberi pendidikan yang waktu itu dikhususkan hanya untuk orang Belanda, bukan karena ingin menjadi “Belanda” tetapi lebih sebagai bentuk perjuangan anti diskriminasi. Almarhum ayah dan ibu fasih berbahasa Belanda, namun khusus ayah selalu sengaja menurunkan mutu bahasa Belanda -nya jika bertemu dengan orang Belanda yang tidak dia kenal, hanya untuk memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap penjajahan.

Didikan orang tua terlihat dalam perilaku sosial Mochtar. Karena dia cerdas tidak banyak waktu yang dibuang untuk menekuni pelajaran. Ketika kami sudah di Gang Sentiong, Mochtar sudah berstatus mahasiswa Fakultas Hukum dan waktunya banyak digunakan dalam kegiatan ekstrakulikuler termasuk olah raga, mengajar, dan juga mencari nafkah termasuk dengan menggelar layar tancap. Pergaulannya juga luas, meliputi kalangan yang berbeda sesuai dengan inklusivisme yang ditanamkan di rumah.

Dengan demikian didikan di rumah mempunyai bekas yang sangat mendalam dalam diri anak-anak, termasuk saya dan Mochtar. Dan tentunya hal ini terbawa dalam berbagai jabatan yang kemudian disandang oleh Mochtar. Pernah Mochtar diberhentikan dari jabatannya sebagai pengajar di UNPAD dan hal itu terjadi karena dia mengemukakan kritik terhadap kebijakan Bung Karno yang dianggapnya tidak tepat. Itulah ciri Mochtar muda, selalu spontan menanggapi apa pun yang dianggap keliru. Karakter sang ayah terlihat disitu. Tentu beda dengan Mochtar yang sudah matang dan dewasa, yang bisa mengemukakan pendapatnya dengan lebih bijak sehingga banyak orang ingat bahwa dia sebagai Menteri Luar Negeri selalu mengemukakan pendapatnya secara tegas dan jelas, namun dalam batas-batas yang bisa diterima oleh yang mendengarkannya. Pengaruh ibu yang berperan dalam diri Mochtar yang sudah matang dan pernah “kena batunya”.

2 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page