top of page

Perubahan Iklim dan Energi dalam Hubungan Internasional


A. Perubahan Iklim Global


1. Perlu upaya luar biasa untuk membatasi kenaikan suhu global, supaya tidak melebihi 1,5° Celcius dibandingkan dengan suhu rata-rata di era pra-industri.


2. Dewasa ini suhu rata-rata sudah mengalami percepatan kenaikan, sehingga sudah makin mendekati batas kenaikan 1,5°C tersebut di atas.


3. Gejala percepatan perubahan iklim ditandai antara lain dengan hadirnya ekstremitas cuaca di banyak kawasan di dunia, seperti:

  • Kebakaran hutan masif di South Australia, California, dan Siberia

  • Cuaca ekstrem seperti musim hujan ekstra lebat dan musim kemarau ekstra kering

  • Ketidakpastian musim, misalnya di Texas

  • Mencairnya es abadi di Kutub Utara maupun Selatan

  • Dinamika kelautan yang berubah

  • Kenaikan suhu dan permukaan air laut

4. Terdapat pandangan seragam dari berbagai lembaga penelitian ilmiah bahwa tekad kolektif para pihak Perjanjian Paris 2015 tidak memperlihatkan cukup komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca melalui pengurangan penggunaan energi fosil.

B. Pandemi COVID-19

1. Penularan virus covid-19 diatasi dengan tindakan-tindakan darurat tanpa persiapan cukup, karena virus hadir mendadak dan cepat menyebar mengikuti mobilitas penduduk di dunia.


2. Belum ada medikasi yang bisa langsung dan cepat menyembuhkan pasien covid-19.


3. Fasilitas kesehatan mengalami pembebanan lebih.


4. Kebijakan pemerintah di dunia secara umum menghadapi ambivalensi antara pengketatan mobilitas penduduk dan pemulihan ekonomi.


C. Perkembangan Pesat Teknologi Digital

1. Perkembangan teknologi digital (era informatika) merupakan “mixed blessing” antara aliran informasi yang lebih cepat, perbaikan pelayanan publik di satu pihak dan ketidakpastian serta “moral hazard" di pihak lain. Kasus Ransomware merupakan contoh.


2. Era informatika menciptakan guncangan, baik yang merupakan “creative destruction” maupun disrupsi terhadap kelembagaan-kelembagaan yang mapan.


D. Perubahan Geopolitik Global

1. Ketiga “game changer” dalam pokok-pokok A, B, dan C tersebut di atas, menciptakan perubahan-perubahan aliansi antar bangsa, perubahan hubungan antara aktor negara dan non-negara, yang dengan demikian menciptakan kemungkinan-kemungkinan modalitas baru dalam geopolitik.


2. Aliansi-aliansi militer, ekonomi dengan demikian menjadi goyah dan disfungsional di luar imajinasi dan perkiraan para pengambil keputusan di dalamnya. Kebingungan menghadapi masa depan terlihat di berbagai kelompok negara, baik G7 maupun G20. Ada kesan bahwa para pemimpin mereka hanya “posturing”dan tidak mampu mengemukakan platform yang kokoh. Contohnya mengenai isu “Net Zero Emissions”.


3. Terdapat juga kemungkinan timbulnya pola kepemimpinan populis di berbagai wilayah sebagai produk dari kondisi psiko sosial masyarakat yang tergoyah oleh perubahan-perubahan yang mengancam rasa aman.


4. Terdapat juga kemungkinan timbulnya pola kepemimpinan populis di berbagai wilayah sebagai produk dari kondisi psikososial masyarakat yang tergoyah oleh perubahan-perubahan yang mengancam rasa aman.


Posisi Indonesia dalam Isu Perubahan Iklim dan Energi

Ringkasan posisi Indonesia disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam Konferensi G-20 dengan inti pesan "Indonesia will lead by example".


1. Indonesia berniat menggenapkan komitmen memenuhi NDC sesuai Perjanjian Paris.


2. Indonesia sedang menyiapkan kebijakan energi baru dan terbarukan serta meningkatkan upaya REDD+ dan AFOLU.

Indonesia Harus Mampu:

1. Menampilkan “Soft power” dengan memperlihatkan keunggulan yang melekat dalam diri kita.


2. Berhenti berpikir untuk “mengejar ketertinggalan dari bangsa lain”. Pola pikir seperti itu adalah “self limiting” dan “self defeating”.


3. Keunggulan yang melekat pada diri kita harus kita terjemahkan dalam kebijakan ekonomi berdasar keunggulan kompetitif bukan keunggulan komparatif.


4. Salah satu cara untuk mempelajari keunggulan kompetitif adalah melihat banyaknya warisan budaya dunia benda dan tak benda yang ditetapkan UNESCO yang ada di Indonesia.


5. Dengan perkataan lain: kegiatan diplomasi Indonesia bertujuan “bring the best of Indonesia to the world”.


Langkah Spesifik Diplomasi dalam Pengelolaan Isu Perubahan Iklim dan Energi, Antara Lain:

1. Mengedepankan konsep ketahanan iklim melalui tindakan mitigasi dan adaptasi secara setara.


2. Mengedepankan “climate justice” atau keadilan iklim, antara lain dengan menggarisbawahi emissions per capita.


3. Menonjolkan regulasi yang menguntungkan investasi di bidang energi baru dan terbarukan.


4. Mengemukakan pendekatan agroekologi yang punya manfaat ganda, yaitu penyediaan pangan, air, dan energi secara berkelanjutan dengan contoh-contoh riil di lapangan.


5. Mendukung hubungan internasional yang bersifat diplomasi “people to people”.


6. Mencerahkan khalayak Indonesia, baik pemerintah, dunia usaha, lembaga-lembaga riset maupun masyarakat mengenai dinamika global. Para diplomat kawakan yang punya jam terbang tinggi dan pengetahuan tak tertandingi dalam isu-isu luar negeri dapat menjadi narasumber terpercaya untuk tugas ini.

18 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page