top of page
Setyanto&SK.png

SARWONO KUSUMAATMADJA – MENTOR ORGANISASI & SAHABAT

oleh: Setyanto P. Santosa

Sarwono Kusumaatmadja, yang saya panggil Kang Sarwono tokoh nasional yang sederhana, pemikirannya simpel dan bahasanya mudah dicerna. Saya mengenal beliau sejak pertengahan tahun 1965, saat saya masuk menjadi anggota organisasi PMB (Perhimpunan Mahasiswa Bandung), organisasi mahasiswa yang tidak berafiliasi dengan partai politik, atau agama, benar-benar murni mahasiswa dengan slogannya kira-kira “Pesta-Buku-Cinta” sejalan dengan kebiasaan mahasiswa saat itu, selain belajar seorang mahasiswa juga harus meluangkan waktu secara imbang untuk punya kegiatan rekreasi dan menjalin silaturahmi dengan lingkungan kampus dan di sekelilingnya tempat kita tinggal.


Saya mendaftar menjadi anggota PMB pada bulan Juli 1965. Saat itu Kang Sarwono menjadi Panitia Penerimaan Anggota Baru dan untuk diterima menjadi anggota peserta harus melalui tahapan perpeloncoan selama 14 hari.


Saat mengikuti perpeloncoan, makin hari makin membuat saya tak tahan. Sudah hampir berhenti dan tidak inginn meneruskan tetapi malu juga kalau berhenti, karena bisa dianggap tak tahan banting atau gojlokan istilah lainnya. Maklumlah, calon anggota yang ikut perpeloncoan PMB tahun 1965 sekitar 200-an orang. Akhirnya saya putuskan untuk tetap meneruskan mengikuti perpeloncoan ini sampai lulus diterima sebagai anggota PMB.


Seusai perpeloncoan, anggota baru PMB dibimbing oleh para mentor yang terdiri dari para anggota senior. Kebetulan saya mendapatkan bimbingan dari Kang Sarwono selama hampir satu tahun yang secara rutin dikumpulkan oleh para Mentor. Kami diajarkan antara lain cara berorganisasi, kehidupan mahasiswa di kampus maupun di masyarakat. Termasuk makna dari manfaat hakikat tujuan perpeloncoan di PMB, yakni sebagai proses belajar untuk mempunyai semangat berani, ulet, dan tidak mudah menyerah. Juga belajar menerima keadaan, belajar tidak melawan meski menerima penghinaan bagaimanapun beratnya dengan mempertimbangkan lebih besar manfaatnya.


Pada awalnya PMB merupakan organisasi non-partisan, namun berubah saat terjadi peristiwa G30S/PKI. Dipaksa oleh kondisi saat itu adanya panggilan mahasiswa harus turun ke jalan, bimbingan ditambahkan tentang kegiatan politik praktis. Di sinilah tampak kepiawaian Kang Sarwono dalam menyikapi keadaan dan menyusun strategi melawan penguasa saat itu.
Melalui bimbingan Kang Sarwono, berbagai kegiatan saya ikuti antara lain ikut berdemontrasi tahun 1966 baik di Bandung maupun di Jakarta bersama SOMAL (Sekretariat Bersama Organisasi Mahasiswa Lokal) yang tergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Dan saat itu masa perkuliahan terganggu oleh pergolakan politik 1965-1966, praktis selama kurang lebih satu tahun mahasiswa mogok kuliah.


Dengan keahliannya mengolah keadaan, tidaklah heran kalau Kang Sarwono dipercaya memangku berbagai  jabatan termasuk yang berbeda dengan sebelumnya adalah dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Golkar yang merupakan tokoh sipil pertama yang menjadi Sekretaris Jenderal, yang biasanya dijabat oleh Perwira Tinggi ABRI. Kemudian berturut-turut menduduki jabatan menteri beberapa Presiden Republik Indonesia. Saat pertama kali menjadi menteri saya tanya apa enaknya menjadi menteri, Kang Sarwono menjawab sambil heureuy (guyon), enaknya jadi menteri tidak usah cari parkiran mobil….  Sangat naïf dan sederhana… itulah Kang Sarwono dengan ciri khas-nya yang merakyat….


Kami bertemu kembali dalam ajang diskusi Forum Sahabat (FORSA) yang mendiskusikan secara independen dan obyektif berbagai persoalan bangsa…., kami bentuk seusai terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Pertemuan kami terakhir adalah juga di ajang FORSA, di lokasi NuArt Bandung, milik sahabat FORSA, Nyoman Nuarta…. Selamat Jalan Kang Sarwono… Alfatihah….

Jakarta, 18 Juli 2023
Setyanto P. Santosa

bottom of page