top of page
TR&SK.png

MEMORY OF THE EARTH: KENANGAN KANG SARWONO YANG MENGGUGAH

oleh: Taufik Rahzen

Kenangan tentangnya selalu tersimpan. Hadir dengan datar, tanpa basa basi, namun memancarkan energi. Ia sering tak terduga, dari mana hadir, dan akan pergi ke mana. Ketakhadirannya selalu meninggalkan ruang kosong, terasakan tapi tak terkatakan.

 

Kang Sarwono selalu fokus, mengatakan lurus apa yang dimaksudkan, tanpa jalan melingkar. Keterus-terangannya membuat rasa nyaman, menarik orang untuk terlibat dan mulai memikirkan hal-hal kecil yang tak terlihat. Pertanyaannya selalu membuka soal yang sering tak terlihat, pernyataannya selalu memberi isyarat tentang apa yang sebaiknya kita lakukan. Ia kombinasi unik, pribadi yang berpikir sekaligus bertindak. Yang menggerakkan tanpa memerintah.

 

Satu saat, pernah kami terlibat dalam percakapan kecil tentang hal yang besar. Namun celetukannya, dan rasa ingin tahunya yang aneh, justru menyingkap kesadaran yang lebih luas.

 

Awal tahun 2015, saya sedang menyiapkan sebuah program peziarahan Tambora menyapa dunia: dua ratus tahun letusan dramatis pada 1815, yang membelokan arah peradaban. Di antara kegiatan, ada pameran kecil yang dibuat di galeri Veteran. Lukisan, poster, dokumen foto dan karya sastra yang tampil sebagai kesaksian akan peristiwa letusan ini.

 

Ia tenggelam dalam pameran, memeriksa dokumen yang ada. Dan tiba-tiba nyeletuk: "Jika benar peristiwa ini, pernah terjadi dalam pengalaman manusia yang dekat, berarti kita masih ada harapan untuk bertahan. Buktinya, kamu Rahzen, yang leluhurmu berasal dari sana, toh sekarang masih bersambung dan bisa hidup di sini, saat ini".

 

Celetukan yang mirip seloroh ini, membongkar dengan mendalam arti pameran ini. Saya tersadar, betapa kesadaran tentang perubahan iklim yang terasa abstrak, global, dan jauh; dihadirkan dalam pertanyaan yang eksistensial dalam pengalaman yang bersifat pribadi. Saat itu, ia ingin hadir dan berharap ikut dalam peziarahan Tambora. Atas pertanyaannya, segera saya mengganti tajuk perjalanan; dari "Menyapa Dunia" menjadi "Memory of the Earth".

 

Beberapa kali setelahnya, ia selalu mengingatkan tentang peziarahan yang luput dia ikuti. Dan matanya selalu berbinar, jika menyinggungnya.

 

Yang tak dia ketahui, sepanjang perjalanan darat menyusuri lereng Tambora berhari-hari dengan Arswendo Atmowiloto, kami selalu mempercakapkan tentangnya.

 

Kata Mas Wendo: "... Kang Sarwono itu, otaknya diasah langit, hatinya dipahat bumi. Ia selalu bertindak tentang apa yang mau diselesaikannya".

Taufik Rahzen
Budayawan

bottom of page